diagnosis

Diagnosis Tepat, Nutrisi Kuat, Masa Depan Anak Sehat, FK UMSIDA Bahas Strategi Hadapi TB Anak

fkkg.umsida.ac.id – Tuberkulosis (TB) pada anak masih menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius, terutama dalam aspek diagnosis dan tata laksana yang komprehensif. Dalam rangka memperkuat pemahaman tenaga kesehatan mengenai pengendalian TB anak, Seminar Kesehatan Nasional Prodi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menghadirkan dua pemateri yang membahas aspek penting dalam penanganan TB anak, yakni tantangan diagnosis serta keterkaitannya dengan kondisi nutrisi pasien.

Lihat juga: Menuju Eliminasi TB 2030, FK UMSIDA Perkuat Strategi Penanganan Tuberkulosis Anak

Adalah Dr dr Retno Asih Setyoningrum Sp A (K) Subsp Resp (K) dengan topik “Tantangan Diagnosis Tuberkulosis Anak di Era Eliminasi TB: Pendekatan Klinis dan Evidence-Based Medicine”. Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Dr dr Meta Herdiana Hanindita Sp A Subsp N F M (K) dengan topik “Pediatric Nutrition Care pada anak dengan TB”.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang pleno GKB 1  kampus 1 UMSIDA ini dihadiri kurang lebih 250 peserta. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari dosen, tenaga kesehatan dan mahasiswa.

Diagnosis TB Anak Membutuhkan Pendekatan Klinis yang Komprehensif

Dalam pemaparannya, Dr dr Retno Asih Setyoningrum menjelaskan bahwa diagnosis TB pada anak memiliki tantangan tersendiri. Kondisi tersebut disebabkan oleh gejala yang sering kali tidak spesifik, jumlah bakteri yang relatif sedikit atau pausibasiler, serta kesulitan memperoleh spesimen untuk pemeriksaan bakteriologis.

“Diagnosis TB anak tidak dapat hanya mengandalkan satu jenis pemeriksaan, tetapi perlu mempertimbangkan keseluruhan kondisi klinis pasien serta hasil pemeriksaan penunjang”, terang dr Retno

diagnosis

Pendekatan diagnosis diawali dengan anamnesis yang cermat, termasuk menggali gejala yang menetap lebih dari dua minggu serta riwayat kontak dengan pasien TB. Gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk lama, demam berkepanjangan atau berulang tanpa sebab yang jelas, penurunan berat badan atau berat badan yang tidak bertambah, serta anak yang tampak lesu dan kurang aktif bermain. Riwayat kontak dengan pasien TB, baik kontak serumah maupun kontak erat di luar rumah, juga menjadi bagian penting dalam proses penegakan diagnosis.

Dalam konteks evidence-based medicine, pemeriksaan bakteriologis, radiologi, pemeriksaan infeksi Mycobacterium tuberculosis, hingga pemeriksaan penunjang lainnya perlu dipertimbangkan sesuai kondisi masing-masing pasien. Pemeriksaan seperti TCM, uji tuberkulin, IGRA, dan foto toraks dapat membantu memperkuat diagnosis. Namun, hasil pemeriksaan tersebut tetap harus diinterpretasikan bersama temuan klinis karena, misalnya, hasil tuberkulin positif menunjukkan adanya bukti infeksi dan tidak selalu berarti anak mengalami sakit TB.

TB dan Malnutrisi pada Anak Saling Berkaitan

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr dr Meta Herdiana Hanindita yang mengangkat tema Pediatric Nutrition Care pada anak dengan TB. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa TB dan malnutrisi memiliki hubungan timbal balik yang dapat membentuk vicious cycle atau lingkaran setan.

“Malnutrisi dapat melemahkan imunitas seluler sehingga meningkatkan risiko progresi infeksi TB menjadi penyakit aktif. Sebaliknya, TB aktif dapat memperburuk kondisi gizi anak melalui peningkatan metabolisme, penurunan nafsu makan, malabsorpsi, serta proses katabolisme jaringan” jelas dr Meta

diagnosis

Kondisi tersebut menjadi semakin penting diperhatikan karena anak memiliki kebutuhan nutrisi yang tinggi untuk mendukung proses tumbuh kembang. Pada saat yang sama, sistem imun anak yang belum matang, terutama pada kelompok usia di bawah lima tahun, membuat mereka lebih rentan mengalami progresi penyakit. Diagnosis yang terlambat akibat gejala yang tidak khas juga dapat memperburuk kondisi kesehatan anak.

Malnutrisi pada saat diagnosis juga disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi luaran pengobatan TB. Anak dengan kondisi malnutrisi memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian, kekambuhan, respons terapi yang lebih lambat, serta peningkatan risiko efek samping obat. Karena itu, penanganan TB pada anak tidak cukup hanya berfokus pada pemberian obat antituberkulosis, tetapi juga harus memperhatikan status nutrisi pasien secara menyeluruh.

Pediatric Nutrition Care sebagai Bagian Integral Penanganan TB Anak

dr. Meta menegaskan pentingnya penerapan Pediatric Nutrition Care sebagai bagian dari pelayanan kesehatan anak. Asuhan nutrisi pediatri mencakup proses penilaian status gizi dan masalah nutrisi, penentuan kebutuhan nutrisi, pemilihan rute pemberian nutrisi, penentuan jenis diet, serta monitoring dan evaluasi. Pendekatan ini diperlukan untuk memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi sesuai kondisi klinis dan kemampuan pasien.

Tahap assessment dilakukan melalui anamnesis mengenai asupan dan pola makan, toleransi makan, perkembangan oromotor dan motorik, perubahan berat badan, serta faktor sosial, budaya, dan agama.

“Pemeriksaan antropometri juga menjadi bagian penting untuk menilai status gizi anak, disertai pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. Selanjutnya, kebutuhan nutrisi ditentukan berdasarkan kondisi pasien dengan memperhatikan status gizi dan kebutuhan tumbuh kembang” tambah dr Meta

diagnosis

Dalam pemberian nutrisi, jalur oral atau enteral menjadi pilihan utama, sedangkan nutrisi parenteral digunakan pada kondisi tertentu ketika saluran cerna tidak dapat digunakan. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan penerimaan makanan, toleransi pemberian nutrisi, komplikasi, pertumbuhan, serta pertambahan berat badan.

Pengendalian TB anak memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan terintegrasi. Ketepatan diagnosis melalui pendekatan klinis dan evidence-based medicine perlu berjalan beriringan dengan perbaikan status nutrisi anak. Dengan menemukan dan mendiagnosis TB secara tepat, memberikan tata laksana yang sesuai, serta memperhatikan kebutuhan nutrisi secara simultan, diharapkan lingkaran setan antara TB dan malnutrisi dapat diputus sehingga kualitas perawatan dan luaran kesehatan anak dapat semakin optimal.

Penulis: Isviyatul Haniya