Pencegahan

Prodi Kedokteran UMSIDA Perkuat Integrasi Pencegahan Tuberkulosis dalam Pendidikan Dokter Berbasis Kompetensi

fkkg.umsida.ac.id –  Prodi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menyelenggarakan Workshop & Training Of Trainers (TOT) Integrasi Pencegahan Tuberkulosis dalam Pendidikan Dokter Berbasis Kompetensi pada Kamis (13/08/2026).

Lihat juga: Diagnosis Tepat, Nutrisi Kuat, Masa Depan Anak Sehat, FK UMSIDA Bahas Strategi Hadapi TB Anak

Workshop & Training Of Trainers (TOT) Prodi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menghadirkan dua pemateri yaitu dr Arief Bakhtiar Sp P(K)  FAPSR  Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jawa Timur dan dr  Herley Windo Setiawan SpP(K) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jawa Timur

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pleno GKB 1 Lantai 7 Kampus 1 UMSIDA ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi dosen dalam mengintegrasikan aspek pencegahan tuberkulosis (TB) ke dalam proses pendidikan kedokteran.

Perkuat Pemahaman PPI TB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Salah satu materi utama dalam kegiatan ini membahas Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi (PPI) TB  disampaikan oleh dr Arief Bakhtiar Sp P(K) . Dalam pemaparan nya dr Arief menjalaskan bahwa pencegahan penularan TB pada seluruh pihak yang terlibat dalam pelayanan pasien harus menjadi perhatian utama.

”Petugas kesehatan yang menangani pasien TB termasuk kelompok dengan risiko tinggi mengalami infeksi TB sebagai penyakit akibat kerja” jelas dr Arief

Implementasi PPI TB di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan melalui tiga tingkat pengendalian yang harus diterapkan secara terintegrasi, yakni pengendalian administratif, pengendalian lingkungan, dan perlindungan pernapasan.

 Pencegahan

”Ketiga komponen tersebut menjadi satu kesatuan dalam upaya memutus rantai penularan TB di fasilitas pelayanan kesehatan” terang dr Arief

Pada aspek administratif, strategi yang ditekankan antara lain triase pasien dengan gejala batuk atau dugaan TB sejak pintu masuk fasilitas kesehatan, pemisahan pasien secara aman, pemberian edukasi mengenai etika batuk, penyediaan masker dan tisu, serta skrining bagi petugas yang menangani pasien TB.

Strategi TEMPO (Temukan pasien secepatnya, Pisahkan secara aman, Obati secara tepat) menjadi salah satu pendekatan penting dalam mempercepat penanganan sekaligus mengurangi risiko penularan.

”Edukasi kepada pasien dan keluarga juga menjadi bagian penting, meliputi etika batuk, pentingnya ventilasi rumah, kepatuhan terhadap pengobatan, serta upaya pencegahan penularan di rumah, sekolah, maupun tempat kerja” tambah dr Arief

Integrasikan Pencegahan TB dalam Kurikulum dan Pembelajaran Klinis

Workshop juga diarahkan pada penguatan integrasi materi pencegahan TB ke dalam kurikulum pendidikan kedokteran mendorong penguatan aspek pencegahan TB dalam sistem pendidikan kedokteran. Upaya tersebut dilakukan melalui integrasi materi TB ke dalam kurikulum, pembelajaran berbasis kasus, tutorial, hingga pengembangan metode evaluasi keterampilan mahasiswa.

Penguatan pembelajaran melalui materi Penguatan Tutorial dan Pengembangan Mini-OSCE Berbasis Pencegahan Tuberkulosis yang disampaikan oleh dr Herley Windo Setiawan SpP(K). Peserta diajak membahas penyusunan skenario tutorial berbasis Problem Based Learning (PBL), peran tutor dalam pembelajaran berbasis kasus TB, penyusunan blueprint Mini-OSCE, serta checklist penilaian.

 Pencegahan

Kurikulum berupa revisi kurikulum dan pemetaan materi pencegahan TB pada blok atau modul semester 1 dan 2. Peserta juga mengikuti workshop tutor dan Mini-OSCE untuk menyusun skenario tutorial serta Mini-OSCE berbasis pencegahan TB, termasuk rubrik penilaian bagi staf dosen.

Selain itu, peserta juga diarahkan untuk melakukan pemetaan materi TB pada blok atau modul pembelajaran. Pemetaan tersebut mencakup integrasi secara horizontal dan vertikal, sehingga materi pencegahan TB tidak berdiri sendiri, tetapi dapat terhubung dengan berbagai kompetensi dan materi pembelajaran yang relevan selama proses pendidikan mahasiswa kedokteran.

Penguatan integrasi kurikulum ini menjadi penting karena pendidikan kedokteran tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang mampu mengenali dan menangani penyakit, tetapi juga memiliki kemampuan dalam melakukan upaya promotif dan preventif. Dalam konteks TB, mahasiswa perlu mendapatkan pembelajaran yang membangun pemahaman mengenai risiko penularan, deteksi dini, edukasi pasien, serta penerapan prinsip pencegahan infeksi dalam pelayanan kesehatan.

Kembangkan Pembelajaran TB Berbasis Kasus dan Mini-OSCE

Melalui pendekatan tersebut, kasus TB dapat digunakan sebagai pemicu pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengidentifikasi permasalahan klinis, serta menghubungkan pengetahuan yang telah diperoleh dengan situasi yang dihadapi dalam praktik kedokteran. Peran tutor juga menjadi salah satu aspek yang diperkuat agar proses diskusi berbasis kasus dapat berjalan sesuai dengan capaian pembelajaran yang ditetapkan.

Tidak berhenti pada tutorial, peserta juga mendapatkan penguatan terkait pengembangan Mini-OSCE. Pembahasan mencakup penyusunan blueprint Mini-OSCE dan checklist penilaian. Dengan demikian, aspek pencegahan TB dapat dihadirkan tidak hanya dalam pembelajaran teoritis, tetapi juga dalam proses evaluasi keterampilan mahasiswa secara terstruktur.

 Pencegahan

Kegiatan ini diharapkan dapat membantu menciptakan keseragaman dalam proses pembelajaran maupun penilaian kompetensi mahasiswa. kegiatan tersebut menunjukkan bahwa integrasi pencegahan TB dalam pendidikan kedokteran dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan kurikulum, pemetaan materi, pengembangan skenario pembelajaran, penguatan peran tutor, hingga penyusunan instrumen evaluasi. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran mengenai TB diharapkan tidak hanya menekankan aspek pengetahuan klinis, tetapi juga membangun kompetensi mahasiswa dalam menerapkan prinsip pencegahan dan keselamatan dalam pelayanan kesehatan.

Penulis: Isviyatul Haniya