fkkg.umsida.ac.id – Prodi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menyelenggarakan Pelatihan Basic Life Support (BLS) – Bantuan Hidup Dasar dan Kegawatdaruratan bagi mahasiswa Program Studi S1 Kedokteran Gigi Semester 4 pada Sabtu (18/7/2026) di Aula Mas Mansur, Kampus 1 GKB 2 Lantai 7 UMSIDA.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya fakultas dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis yang dapat terjadi selama praktik kedokteran gigi maupun di lingkungan masyarakat. Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan registrasi peserta yang kemudian dilanjutkan dengan pre-test menggunakan Google Form. Evaluasi awal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa mengenai konsep Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support) sebelum memperoleh materi dari narasumber.
Lihat juga: FKG UMSIDA Terima Kunjungan Benchmarking Universitas Muhammadiyah Maluku Utara
Selanjutnya, kegiatan dibuka secara resmi melalui sambutan dari Wakil Dekan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi UMSIDA, drg. Lila Muntadir, Sp.Ort. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kemampuan menangani kegawatdaruratan merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki oleh setiap calon dokter gigi.
Menurutnya, seorang dokter gigi tidak hanya dituntut memiliki keterampilan klinis, tetapi juga harus mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat apabila terjadi keadaan darurat pada pasien.
Pembekalan Materi Basic Life Support oleh Narasumber Ahli
Setelah pembukaan, peserta memperoleh materi dari dr. April Poerwanto Basoeki, dr. Sp.An., KIC yang mengawali sesi dengan pembahasan mengenai Introduction to Life-Threatening Emergencies atau kegawatan yang mengancam jiwa. Materi tersebut membahas pentingnya mengenali kondisi pasien sejak dini, melakukan penilaian awal secara sistematis, serta menentukan tindakan yang harus segera dilakukan untuk mencegah kondisi pasien semakin memburuk.

Pada sesi berikutnya, dr. April menyampaikan materi inti mengenai Basic Life Support (BLS) yang meliputi teknik penanganan henti jantung dan henti napas, Resusitasi Jantung Paru (RJP), penggunaan Bag Valve Mask (BVM), serta alur penanganan pasien sesuai standar Bantuan Hidup Dasar. Materi disampaikan secara interaktif sehingga mahasiswa dapat memahami konsep sekaligus penerapannya dalam praktik kedokteran gigi.
Praktik Hands-on Bersama Instruktur CODE BLUE dan ETT 119 Surabaya
Tidak hanya memperoleh materi secara teoritis, mahasiswa juga mengikuti demonstrasi Basic Life Support yang dipandu oleh tim instruktur dari CODE BLUE Surabaya dan Emergency Teaching and Training (ETT) 119 Surabaya. Demonstrasi ini memberikan gambaran nyata mengenai prosedur penanganan pasien pada kondisi kegawatdaruratan.

Agar setiap peserta memperoleh pengalaman praktik secara optimal, mahasiswa dibagi ke dalam 4 kelompok keterampilan (skill station). Pada sesi ini peserta mempraktikkan teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), penggunaan Bag Valve Mask (BVM), hingga prosedur Bantuan Hidup Dasar secara langsung dengan pendampingan instruktur berpengalaman. Metode hands-on training tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan teknis sekaligus membangun kepercayaan diri ketika menghadapi situasi darurat di lapangan.
Pengenalan Advanced Life Support dan Evaluasi Pembelajaran
Pada sesi siang, dr. April Poerwanto Basoeki, dr. Sp.An., KIC kembali memberikan materi mengenai Advanced Life Support (ALS) yang dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan Automated External Defibrillator (AED) serta simulasi penanganan Code Blue. Materi ini memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai tata laksana lanjutan pasien dengan henti jantung serta pentingnya koordinasi antar tenaga kesehatan dalam menangani kondisi kegawatdaruratan secara efektif.

Sebagai bentuk evaluasi terhadap keberhasilan pelatihan, seluruh peserta mengikuti post-test pada akhir kegiatan. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman mahasiswa setelah mengikuti seluruh rangkaian materi dan praktik. Dengan adanya pre-test dan post-test, penyelenggara dapat menilai efektivitas proses pembelajaran sekaligus memastikan bahwa kompetensi dasar Bantuan Hidup Dasar telah dipahami oleh seluruh peserta.
Mempersiapkan Calon Dokter Gigi yang Siap Menghadapi Kegawatdaruratan
Sebelum kegiatan ditutup, narasumber turut memberikan materi mengenai penanganan reaksi anafilaksis, salah satu kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi dalam praktik kedokteran gigi. Materi ini menjadi pelengkap agar mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai berbagai situasi medis yang berpotensi terjadi selama memberikan pelayanan kepada pasien.
Lihat juga: KKN T 27 Umsida dan Posyandu Remaja Latih Pertolongan Pertama di Desa Seketi
Melalui penyelenggaraan Pelatihan Basic Life Support ini, Prodi Kedokteran Gigi UMSIDA berharap mahasiswa semakin siap menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan di lingkungan praktik klinik. Kompetensi yang diperoleh selama pelatihan diharapkan menjadi bekal penting bagi calon dokter gigi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, responsif, dan selalu mengutamakan keselamatan pasien.
Penulis: Afifani Aulida Romadhoni











